{"id":25691,"date":"2026-02-04T14:42:41","date_gmt":"2026-02-04T07:42:41","guid":{"rendered":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/?p=25691"},"modified":"2026-02-04T14:46:40","modified_gmt":"2026-02-04T07:46:40","slug":"transjakarta-masuk-jalur-bandara-soetta-pengamat-jangan-matikan-angkutan-yang-sudah-ada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/2026\/02\/transjakarta-masuk-jalur-bandara-soetta-pengamat-jangan-matikan-angkutan-yang-sudah-ada\/","title":{"rendered":"TransJakarta Masuk Jalur Bandara Soetta, Pengamat: Jangan Matikan Angkutan yang Sudah Ada"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Matawarta.com, JAKARTA<\/strong> &#8211; Pembukaan rute baru TransJabodetabek koridor Blok M-Bandara Soekarno-Hatta menuai beragam tanggapan. Pengamat Sosial Muhammad Amjad M.Si mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak menimbulkan efek domino yang justru merugikan sektor transportasi yang sudah lebih dulu beroperasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Amjad menilai, rute Blok M-Soetta sebelumnya telah dilayani oleh perusahaan angkutan berpelat kuning serta sejumlah operator swasta. Kehadiran bus TransJabodetabek dengan tarif murah, menurutnya, berpotensi memicu persaingan tidak seimbang jika tidak diatur secara matang.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kalau ini dimunculkan, efek dominonya luar biasa. Karena sebelumnya sudah ada perusahaan pelat kuning yang beroperasi di jalur tersebut, juga perusahaan swasta,\u201d ujar Amjad.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menekankan pentingnya penyesuaian tarif dan segmentasi pengguna agar subsidi transportasi publik benar-benar tepat sasaran. Menurutnya, layanan bus murah sebaiknya difokuskan untuk pekerja lapangan, khususnya mereka yang berdomisili di Jakarta namun bekerja di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHarusnya tarifnya disesuaikan. Atau lebih baik bus murah itu ditujukan untuk pekerja lapangan yang rumahnya di Jakarta tapi tempat kerjanya di bandara. Jadi subsidinya tepat,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, Amjad juga menyoroti keberadaan Kereta Bandara Soekarno-Hatta yang dinilai belum dimaksimalkan. Ia menyebut, alih-alih membuka rute baru yang berpotensi tumpang tindih, pemerintah seharusnya memperkuat integrasi antarmoda.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSebenarnya sudah ada kereta bandara. Tinggal bagaimana menyediakan bus-bus khusus yang bisa mengantar masyarakat atau penumpang pesawat ke stasiun kereta bandara,\u201d kata Amjad.<\/p>\n\n\n\n<p>Pria yang pernah menjadi jurnalis itu mengingatkan agar pembangunan transportasi publik tidak berhenti pada penambahan rute semata. Akan tetapi juga diiringi dengan pengelolaan dan perawatan layanan yang sudah tersedia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBangsa kita ini jangan suka membangun tapi tidak bisa menjaga apa yang sudah ada. Itu saja yang dimaksimalkan,\u201d pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelumnya, Pramono mengumumkan rencana Pemprov DKI Jakarta meluncurkan dua rute Transjabodetabek baru, yakni Blok M-Bandara Soekarno-Hatta dan rute Cawang-Jababeka.<br>Meski demikian, ia menekankan rencana tersebut masih dalam tahap pematangan karena memerlukan persetujuan dari Kementerian Perhubungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pramono menyakini TransJ koridor Blok M-Soetta tidak akan berdampak pada pengurangan maupun penutupan trayek\u00a0transportasi umum\u00a0yang telah beroperasi saat ini. Ia menyebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan berkoordinasi dengan\u00a0Damri\u00a0terkait pengoperasian rute baru tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, penambahan layanan justru bertujuan memperluas pilihan transportasi publik bagi masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ini memberikan kemudahan kepada publik supaya transportasi umum punya lebih banyak opsi. Dengan semakin banyak pilihan, masyarakat tidak lagi terlalu bergantung pada kendaraan pribadi. Pada akhirnya, ini untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi,\u201d katanya. (mua)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matawarta.com, JAKARTA &#8211; Pembukaan rute baru TransJabodetabek koridor Blok M-Bandara Soekarno-Hatta menuai beragam tanggapan. Pengamat Sosial Muhammad Amjad M.Si mengingatkan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":5095,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[6366,6357,6358,6365],"class_list":["post-25691","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-pembukaan-transjakarta-koridor-blok-m-soetta-dikritik","tag-transj-blok-m-soetta","tag-transjabodetabek-blok-m-bandara-soetta","tag-transjakarta-blok-m-soetta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25691","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25691"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25691\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25693,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25691\/revisions\/25693"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5095"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25691"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25691"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25691"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}