{"id":26452,"date":"2026-05-15T13:13:01","date_gmt":"2026-05-15T06:13:01","guid":{"rendered":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/?p=26452"},"modified":"2026-05-15T13:13:03","modified_gmt":"2026-05-15T06:13:03","slug":"yusril-angkat-bicara-soal-pembubaran-nobar-pesta-babi-pemerintah-tidak-pernah-melarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/2026\/05\/yusril-angkat-bicara-soal-pembubaran-nobar-pesta-babi-pemerintah-tidak-pernah-melarang\/","title":{"rendered":"Yusril Angkat Bicara soal Pembubaran Nobar Pesta Babi: Pemerintah Tidak Pernah Melarang"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Matawarta.com, JAKARTA-<\/strong> Menko Kumham Imipas Yursil Ihza Mahendra merespons polemik pembubaran nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menegaskan pemerintah tidak pernah mengeluarkan instruksi resmi untuk melarang pemutaran film karya Dandhy Laksono tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Pernyataan itu muncul setelah serangkaian aksi pembubaran nobar terjadi di sejumlah daerah dan memicu sorotan publik. Yusril menilai kasus yang terjadi di beberapa kampus bukan bentuk pelarangan terpusat dari pemerintah, melainkan lebih kepada persoalan teknis dan administratif.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Tidak semua kampus melarang pemutaran film dokumenter tersebut. Di Universitas Mataram dan UIN Mataram, Lombok, nobar film itu dilarang karena persoalan prosedur administratif saja,&#8221; kata Yusril dalam keterangannya, Kamis (14\/5).<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menegaskan, di banyak daerah lain pemutaran film tetap berlangsung tanpa gangguan. Karena itu, menurutnya, tidak tepat jika pembubaran nobar dianggap sebagai operasi pemerintah atau aparat penegak hukum secara nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pembubaran nobar film \u2018Pesta Babi\u2019 bukanlah arahan dari Pemerintah ataupun aparat penegak hukum yang biasanya terpusat,&#8221; tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, Yusril menganggap kritik terhadap proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan merupakan hal yang sah dalam demokrasi. Film tersebut memang menyoroti isu kerusakan lingkungan, hilangnya hutan Papua, hingga persoalan hak ulayat masyarakat adat akibat ekspansi perkebunan industri.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, ia juga menilai penggunaan judul Pesta Babi sengaja dibuat provokatif untuk menarik perhatian publik dan berpotensi memunculkan beragam tafsir di tengah masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Judul film dokumenter itu sendiri memang kontroversial. Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita tampak bersifat provokatif,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelumnya, aksi nobar film dokumenter itu dibubarkan di sejumlah lokasi, termasuk di Universitas Mataram dan di kawasan Ternate. Di Unram, pembubaran dilakukan oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan bersama puluhan satpam kampus.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara di Ternate Tengah, pembubaran dipimpin langsung Dandim 1501\/Ternate Letkol Inf Jani Setiadi saat nobar digelar AJI Ternate dan SIEJ Maluku Utara. (mua)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matawarta.com, JAKARTA- Menko Kumham Imipas Yursil Ihza Mahendra merespons polemik pembubaran nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":18156,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[6839,6838],"class_list":["post-26452","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-nobar-film-pesta-babi","tag-pembubaran-nobar-film-pesta-babi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26452","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26452"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26452\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26453,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26452\/revisions\/26453"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26452"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26452"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26452"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}