{"id":27184,"date":"2026-08-30T13:19:58","date_gmt":"2026-08-30T06:19:58","guid":{"rendered":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/?p=27184"},"modified":"2026-08-30T13:19:59","modified_gmt":"2026-08-30T06:19:59","slug":"peta-perebutan-ketum-pbnu-berubah-muktamar-nu-sepakati-mekanisme-ahwa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/2026\/08\/peta-perebutan-ketum-pbnu-berubah-muktamar-nu-sepakati-mekanisme-ahwa\/","title":{"rendered":"Peta Perebutan Ketum PBNU Berubah, Muktamar NU Sepakati Mekanisme AHWA"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Matawarta.com, JAKARTA &#8211; <\/strong>Peta perebutan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berubah drastis. Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, resmi menyepakati perubahan mekanisme pemilihan pucuk pimpinan organisasi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan itu ditandai dengan masuknya sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) sebagai mekanisme pemilihan apabila musyawarah mufakat tidak menghasilkan keputusan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pimpinan Tim Materi Organisasi Muktamar ke-35 NU, Asrorun Niam, mengatakan keputusan tersebut merupakan hasil Sidang Pleno III Muktamar NU yang digelar di Jombang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Keputusan Muktamar NU, mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU dilakukan oleh Ahlul Halli Wal Aqdi setelah penjaringan lima nama oleh peserta muktamar,&#8221; ujar Niam kepada wartawan, Minggu (30\/8\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang membuat perubahan ini menjadi sorotan adalah besarnya dukungan peserta muktamar. Sebanyak 401<strong> <\/strong>suara menyatakan setuju dengan perubahan mekanisme dari sistem sebelumnya, yakni <em>one man one vote<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Niam, pembahasan mengenai mekanisme pemilihan lebih dulu berlangsung di Komisi Organisasi. Peserta kemudian menentukan pilihan melalui pemungutan suara untuk memilih antara mekanisme langsung atau AHWA.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Keputusan tersebut dibahas oleh Komisi Organisasi, dilanjutkan dengan pemungutan suara, apakah dengan model langsung atau model melalui AHWA. Mayoritas peserta, sejumlah 401 suara menghendaki perubahan,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski AHWA mendapat peran penting, mekanisme baru tersebut tidak serta-merta menghapus pemilihan langsung. Dalam aturan yang disepakati, Ketua Umum PBNU terlebih dahulu dipilih peserta muktamar melalui musyawarah mufakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika forum tidak berhasil menemukan titik temu, barulah AHWA mengambil alih proses pemilihan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Begini Skema Baru Pemilihan Ketum PBNU<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aturan tersebut tertuang dalam Pasal 41 huruf e. Tahapannya dimulai dengan pemilihan langsung oleh peserta muktamar melalui musyawarah mufakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika mufakat gagal tercapai, peserta muktamar akan melakukan penjaringan calon dengan pemungutan suara. Setiap peserta dapat memilih maksimal lima nama yang memenuhi persyaratan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lima nama dengan perolehan suara tertinggi kemudian ditetapkan sebagai calon Ketua Umum PBNU dan diserahkan kepada AHWA.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selanjutnya, AHWA memilih satu calon untuk menjadi Ketua Umum. Namun, calon tersebut harus terlebih dahulu menyatakan kesediaannya secara lisan atau tertulis serta memperoleh persetujuan tertulis dari Rais Aam terpilih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan skema ini, 401 suara peserta Muktamar NU menjadi titik penting yang mengubah arah pemilihan Ketua Umum PBNU, dari sistem <em>one man one vote<\/em> menuju mekanisme yang memberi peran besar kepada AHWA. (mua)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matawarta.com, JAKARTA &#8211; Peta perebutan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berubah drastis. Muktamar ke-35 NU di Jombang,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":21078,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[7129,7132],"class_list":["post-27184","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-muktamar-ke-35-nu","tag-pemilihan-ketum-pbnu-lewat-ahwa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27184","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27184"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27184\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27185,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27184\/revisions\/27185"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21078"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27184"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27184"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27184"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}