{"id":27228,"date":"2026-09-03T12:11:20","date_gmt":"2026-09-03T05:11:20","guid":{"rendered":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/?p=27228"},"modified":"2026-09-03T12:15:42","modified_gmt":"2026-09-03T05:15:42","slug":"566-santri-keracunan-usai-santap-mbg-bgn-sebut-kelalaian-yang-disengaja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/2026\/09\/566-santri-keracunan-usai-santap-mbg-bgn-sebut-kelalaian-yang-disengaja\/","title":{"rendered":"566 Santri Keracunan Usai Santap MBG, BGN Sebut Kelalaian yang Disengaja"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Matawarta.com, JAKARTA<\/strong>&#8211; Kasus dugaan keracunan massal setelah ratusan santri dan pelajar menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo memasuki babak baru. Badan Gizi Nasional (BGN) menilai insiden tersebut bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan bentuk kelalaian yang disengaja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepala BGN Sudaryono mengungkap adanya pelanggaran terhadap prosedur yang sebelumnya telah ditetapkan. Ia memperingatkan&nbsp; pihak yang terbukti lalai tidak hanya terancam kehilangan jabatan, tetapi juga dapat menghadapi proses hukum apabila ditemukan unsur pidana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIni adalah kelalaian yang disengaja. Aturan sudah diberikan, juklak-juknis sudah diberikan, cara sudah diberikan, tapi Anda lalai dalam melaksanakan,\u201d tegas Sudaryono melalui unggahan Instagram, Kamis (3\/9\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pernyataan tersebut disampaikan setelah dugaan keracunan menimpa ratusan penerima MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, serta sejumlah lembaga pendidikan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kesalahan pelabelan makanan menjadi sorotan utama.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sudaryono menjelaskan ahli gizi dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menangani distribusi makanan disebut tidak memberikan label secara lengkap pada seluruh ompreng.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari banyaknya wadah makanan yang dikirimkan kepada penerima manfaat, hanya satu ompreng yang disebut mendapatkan label. Padahal, label tersebut berisi informasi penting, termasuk waktu makanan selesai dimasak dan batas maksimal makanan untuk dikonsumsi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masalah semakin serius karena terdapat ketidaksesuaian informasi mengenai waktu makanan matang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Sudaryono, makanan sebenarnya telah selesai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB sehingga seharusnya sudah dikonsumsi sebelum pukul 09.00 WIB. Namun, data pada label mencantumkan makanan matang sekitar pukul 08.00 WIB dengan batas konsumsi hingga pukul 10.00 WIB.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persoalan kemudian berlanjut pada proses distribusi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Makanan yang seharusnya dikonsumsi sebelum batas waktu tersebut justru dikirim ke sekolah sekitar pukul 11.30 hingga 11.40 WIB. Para siswa kemudian baru menyantapnya setelah pukul 12.00 WIB.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rentang waktu tersebut menjadi perhatian serius BGN karena makanan dikonsumsi jauh setelah batas waktu yang seharusnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cYang menjadi kenyataannya di lapangan, itu ompreng yang harusnya dimakan sebelum jam 10.00 dikirim ke sekolah di atas jam 11.00. Baru dimakan di atas jam 12.00 oleh para siswa itu sehingga keracunan massal terjadi,\u201d ujar Sudaryono.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">BGN pun menegaskan akan memperketat pengawasan terhadap seluruh SPPG. Sudaryono meminta setiap unit menjalankan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis tanpa pengecualian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia juga memerintahkan seluruh SPPG untuk memastikan setiap makanan mendapatkan label serta seluruh informasi di dalamnya diisi sesuai kondisi sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tak hanya ancaman pencopotan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sudaryono menegaskan BGN tidak akan memberikan perlindungan apabila ditemukan pelanggaran yang mengandung unsur pidana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBukan hanya dicopot, bukan hanya dipecat. Kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf kami tidak bisa bantu,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain, Kepala SPPG Kalitengah Tanggulangin, Rafli Ridho, sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia mengaku menyesal setelah 566 santri Pondok Pesantren Manbaul Hakim dan pelajar dari 19 lembaga pendidikan lainnya mengalami dugaan keracunan setelah menyantap MBG yang diproduksi oleh SPPG yang dipimpinnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMohon maaf ya, saya menyesal,\u201d kata Rafli di SPPG Kalitengah, Sidoarjo, Rabu (2\/9\/2026). (mua)<br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matawarta.com, JAKARTA&#8211; Kasus dugaan keracunan massal setelah ratusan santri dan pelajar menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo memasuki&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":26926,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[4424,7152],"class_list":["post-27228","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-kasus-keracunan-mbg","tag-ratusan-santri-keracunan-mbg"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27228","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27228"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27228\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27232,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27228\/revisions\/27232"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26926"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27228"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27228"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27228"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}