{"id":27251,"date":"2026-09-07T15:31:21","date_gmt":"2026-09-07T08:31:21","guid":{"rendered":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/?p=27251"},"modified":"2026-09-07T15:31:21","modified_gmt":"2026-09-07T08:31:21","slug":"sebaran-abu-anak-krakatau-lampaui-2018-pvmbg-ungkap-biang-keladinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/2026\/09\/sebaran-abu-anak-krakatau-lampaui-2018-pvmbg-ungkap-biang-keladinya\/","title":{"rendered":"Sebaran Abu Anak Krakatau Lampaui 2018, PVMBG Ungkap Biang Keladinya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Matawarta.com, JAKARTA &#8211; <\/strong>Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali memicu perhatian serius. Bukan hanya aktivitas vulkaniknya yang menjadi sorotan, sebaran abu vulkanik kali ini ternyata menjangkau wilayah yang lebih luas dibandingkan erupsi pada 2018.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Rita Susilawati, mengungkapkan luasnya sebaran abu tersebut dipengaruhi oleh durasi erupsi yang berlangsung cukup panjang. Erupsi menerus selama sekitar 25 jam membuat volume abu yang dilepaskan ke atmosfer menjadi signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Sebaran abu kali ini lebih luas karena erupsi berlangsung menerus selama sekitar 25 jam, menghasilkan volume abu yang signifikan yang terbawa angin hingga ke wilayah yang jauh,&#8221; kata Rita saat dihubungi, Senin (7\/9\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kondisi tersebut membuat abu vulkanik GAK terbawa angin hingga ke kawasan yang lebih jauh. Namun, Rita menegaskan&nbsp; luasnya sebaran abu tidak dapat dijadikan patokan erupsi kali ini lebih besar atau lebih dahsyat dibandingkan peristiwa 2018.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada 2018, Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian aktivitas vulkanik yang berujung pada runtuhnya sebagian tubuh gunung. Peristiwa tersebut kemudian memicu tsunami di kawasan Selat Sunda pada 22 Desember 2018.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Namun, hal ini tidak berarti skalanya lebih besar daripada erupsi 2018,&#8221; ujar Rita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut dia, erupsi 2018 sempat menghasilkan kolom abu dengan ketinggian ekstrem, bahkan mencapai lebih dari 55.000 kaki setelah sebagian tubuh gunung runtuh. Sementara itu, sebaran abu kali ini lebih melebar secara lateral karena dipengaruhi pola angin musim kemarau di berbagai lapisan atmosfer.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, abu vulkanik yang menyebar lebih jauh saat ini lebih banyak dipengaruhi kondisi atmosfer dan arah angin, bukan semata-mata karena kekuatan erupsi yang lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski demikian, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau. PVMBG menyebut aktivitas saat ini didominasi erupsi Strombolian yang berlangsung singkat tetapi berulang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Saat ini, aktivitas kembali didominasi oleh erupsi Strombolian yang singkat dan berulang, sehingga produksi serta luas sebaran abu diperkirakan akan mulai berkurang,&#8221; kata Rita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Erupsi Menerus Telah Berakhir<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau sebelumnya berlangsung sejak Jumat (4\/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6\/9) pukul 00.04 WIB.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah episode erupsi menerus tersebut berakhir, aktivitas GAK kini beralih pada letusan Strombolian. Meski intensitas sebaran abu diperkirakan menurun, dampaknya terhadap aktivitas masyarakat dan transportasi masih terasa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau,&#8221; tulis BMKG dalam situs resminya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dampak abu vulkanik bahkan merembet ke sektor penerbangan. Sejumlah bandara masih mengalami penutupan sementara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, akibat kondisi sebaran abu yang mengganggu keselamatan penerbangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, perkembangan Gunung Anak Krakatau dan pergerakan abu vulkanik menjadi perhatian utama, terutama bagi masyarakat serta sektor transportasi di wilayah terdampak. (mua)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matawarta.com, JAKARTA &#8211; Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali memicu perhatian serius. Bukan hanya aktivitas vulkaniknya yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":27247,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[7162,7160],"class_list":["post-27251","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-abu-vulkanik-gunung-anak-krakatau","tag-erupsi-gunung-anak-krakatau"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27251","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27251"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27251\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27252,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27251\/revisions\/27252"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27247"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27251"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27251"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27251"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}