{"id":27387,"date":"2026-09-24T10:37:26","date_gmt":"2026-09-24T03:37:26","guid":{"rendered":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/?p=27387"},"modified":"2026-09-24T10:37:27","modified_gmt":"2026-09-24T03:37:27","slug":"daratan-baru-muncul-di-gunung-anak-krakatau-luasnya-capai-328-hektare-usai-erupsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/2026\/09\/daratan-baru-muncul-di-gunung-anak-krakatau-luasnya-capai-328-hektare-usai-erupsi\/","title":{"rendered":"Daratan Baru Muncul di Gunung Anak Krakatau, Luasnya Capai 32,8 Hektare Usai Erupsi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Matawarta.com, JAKARTA- Fenomena tak biasa terjadi di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Usai rangkaian erupsi pada 4-6 September 2026, daratan baru terdeteksi muncul di kawasan gunung api tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukan sekadar perubahan kecil, Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat adanya penambahan daratan hingga 32,8<strong> <\/strong>hektare pada tubuh Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Temuan tersebut diketahui berdasarkan evaluasi citra satelit Sentinel. Daratan baru terlihat di sektor barat laut hingga barat-barat daya Gunung Anak Krakatau.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, SS Rita Susilawati, menjelaskan daratan tersebut terbentuk akibat material hasil erupsi yang mengendap.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Badan Geologi menghitung penambahan luasan sebesar 32,8 ha,&#8221; kata Rita dalam keterangan di media sosial Badan Geologi, Kamis (24\/9\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang membuat fenomena ini semakin menarik, citra satelit juga memperlihatkan kemunculan dua<strong> <\/strong>gumuk menyerupai pulau kecil di sekitar Gunung Anak Krakatau. Keduanya terdeteksi berada di sisi barat laut dan tenggara tubuh gunung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Badan Geologi menduga kemunculan dua daratan tersebut masih berkaitan erat dengan erupsi yang berlangsung secara menerus selama sekitar 25 jam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kemunculannya &#8216;kedua pulau&#8217; tersebut diduga berkaitan dengan erupsi menerus selama sekitar 25 jam,&#8221; ujar Rita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara sementara, Badan Geologi menduga material magma encer yang keluar saat erupsi mencapai permukaan melalui jalur bukaan yang memanjang dari arah barat laut menuju tenggara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Material vulkanik yang keluar kemudian mengendap di sejumlah titik hingga membentuk daratan baru yang dari citra satelit tampak seperti dua pulau kecil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, Badan Geologi belum memastikan sepenuhnya proses terbentuknya daratan tersebut. Dugaan itu masih membutuhkan verifikasi langsung di lapangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Ini masih dugaan, yang perlu dikonfirmasi melalui pengecekan lapangan,&#8221; jelas Rita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Badan Geologi selanjutnya akan membandingkan citra satelit sebelum dan setelah erupsi serta melakukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah fenomena munculnya daratan baru tersebut, masyarakat diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Saat ini status gunung masih berada pada level Waspada.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Badan Geologi menetapkan wilayah bahaya dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Masyarakat juga diminta tidak mendekati dua gumuk yang terlihat di sekitar gunung dengan jarak kurang dari 1 kilometer demi keselamatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemunculan daratan baru ini menjadi salah satu perubahan terbaru pada tubuh Gunung Anak Krakatau setelah aktivitas erupsi yang berlangsung pada awal September 2026.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matawarta.com, JAKARTA- Fenomena tak biasa terjadi di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Usai rangkaian erupsi pada 4-6 September 2026,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":27388,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[7208,289],"class_list":["post-27387","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-daratan-baru-di-gunung-anak-krakatau","tag-gunung-anak-krakatau"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27387","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27387"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27387\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27389,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27387\/revisions\/27389"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27388"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27387"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27387"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/matawarta.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27387"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}