Matawarta.com, JAKARTA – Program pembinaan pelajar nakal dikirim ke barak militer menuai pro dan kontra. TNI AD memastikan tak ada hak anak yang dilanggar.
Kadispenad Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menjelaskan pelajar diberikaan pembinaan khusus dalam penanaman karakter dan kepribadian. Ia menyebut tidak ada pendidikan ala militer.
“Dalam program ini juga tidak ada hak-hak anak yang dilanggar, semua atas persetujuan orang tua, bahkan ujian sekolah pun tetap mereka laksanakan selama Program tersebut berjalan. Oleh karena itu TNI AD tidak bekerja sendiri, kami tetap melibatkan personel dari instansi dan stakeholder terkait yang lain, baik itu dari kedinasan (Dinsos, Dinkes, P3A dll) dan juga Polri serta unsur lain sesuai materi yang diberikan,” ujarnya, Senin (5/5).
“Dalam kegiatan tersebut juga jauh dari hal-hal yang berbau militeristik, lebih kepada penanaman karakter dan kepribadian yang juga banyak dilaksanakan kepada anak-anak di institusi lain,” katanya.
Meski demikian, Wahyu tetap terbuka dengan kritik dan saran agar program pembinaan ini lebih baik. Ia memastikan program tersebut bukan hukuman bagi pelajar, tetapi pembinaan sehingga anak tersebut menjadi lebih baik.
“Kami sangat menghargai perbedaan pendapat, karena tentunya perbedaan akan semakin memperkaya wawasan kita. Selanjutnya kami jajaran TNI AD ini diminta untuk membantu program Pemprov Jabar dalam membina dan menyiapkan generasi muda yang andal menyambut Indonesia emas, dan ini juga sebagai salah satu tugas dan fungsi kami dalam bidang pembinaan teritorial,” katanya.
“Perlu digarisbawahi, bahwa kegiatan pendidikan karakter ini bukanlah bentuk sebuah sanksi atau hukuman tapi lebih kepada metode pembinaan,” ucapnya.
“Tentu evaluasi, saran, masukan dari berbagai pihak akan kami laksanakan dan perhatikan, kami juga akan berikan masukan ke Pemprov Jabar sebagai bahan mereka untuk mengevaluasi program ini. Kami juga berharap dan menyarankan, terkait evaluasi dan masukan ini juga bisa dikomunikasikan ke Pemprov Jabar,” kata Wahyu menegaskan.
