Matawarta.com, JAKARTA- Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menamai gedung utama Kementerian HAM sebagai Gedung KH Abdurrahman Wahid, untuk mengenang jasa besar Presiden ke-4 RI, Gus Dur, yang baru saja dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Pigai, keputusan ini bukan sekadar penempelan nama, melainkan bentuk penghormatan mendalam bagi sosok yang dianggap meletakkan fondasi kemanusiaan dan pluralisme di Indonesia.
“Saya langsung menetapkan nama Gedung Kementerian Hak Asasi Manusia menjadi Gedung KH Abdurrahman Wahid. Ini bukan sekadar nama, tapi napas perjuangan seorang pejuang HAM sejati,” ujar Pigai.
Pigai menilai Gus Dur adalah tokoh moral bangsa, bukan sekadar pemimpin politik. Ia mengingat bagaimana kebijaksanaan Gus Dur selalu menempatkan manusia sebagai pusat dari kebijakan, tanpa sekat agama, ras, atau golongan.
“Gus Dur adalah simbol pluralisme, keadilan, dan keberanian moral. Beliau menegaskan bahwa kemanusiaan adalah rumah kita bersama,” imbuh Pigai.
Pigai juga menyebut Gus Dur sebagai presiden pertama yang membentuk Kementerian HAM, langkah yang disebutnya monumen keberpihakan terhadap martabat manusia.
Selama masa kepemimpinannya, Gus Dur dikenal progresif dan berani. Ia mencabut berbagai kebijakan diskriminatif, termasuk Tap MPRS No. XXV/1966 yang selama puluhan tahun membatasi kebebasan berpikir dan berekspresi.
Tak hanya itu, Pigai menyoroti pendekatan dialogis dan penuh empati Gus Dur terhadap masyarakat Papua.
“Beliau menempatkan rakyat Papua sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Itu warisan yang harus terus kita jaga,” tutur Pigai.
Sebagai bentuk lanjutan penghormatan, Pigai juga menamai ruang pelayanan HAM di lantai 1 dengan nama Marsinah, aktivis buruh yang juga baru ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
“Kami ingin semangat Gus Dur dan Marsinah hidup di dinding-dinding kementerian ini. Agar setiap keputusan di sini lahir dari nurani dan berpihak pada martabat manusia,” tegas Pigai.
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk KH Abdurrahman Wahid dan Marsinah menjadi simbol kuat perjuangan untuk kemanusiaan tidak pernah padam ia hanya berganti generasi dan ruang perjuangan. (mua)
