Matawarta.com, JAKARTA – Pagi Senin, 5 Januari 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa-siswi di Aceh Tamiang. Setelah berminggu-minggu diliputi kecemasan akibat banjir bandang dan longsor, mereka kembali melangkah ke sekolah dengan seragam yang mungkin masih tersisa, namun dengan semangat yang tak surut.
Di SMAN 4 Kejuruan Muda, sekolah yang terdampak langsung bencana pada akhir November 2025, halaman sekolah kembali dipenuhi suara siswa. Meski bekas-bekas banjir belum sepenuhnya hilang, upacara bendera tetap digelar sebagai tanda dimulainya semester genap.
Barisan siswa SMP dan SMA berdiri rapi di lapangan. Sebagian di antara mereka kehilangan buku, seragam, bahkan rumah. Namun pagi itu, mereka berdiri bersama, menatap masa depan. Suasana semakin mengharukan ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, maju ke tengah lapangan sebagai pembina upacara.
Di bawah langit cerah, Mu’ti tak menutupi rasa harunya melihat wajah-wajah muda yang tetap hadir di sekolah meski baru saja melewati masa sulit. Ia menyebut keteguhan para siswa sebagai cermin kekuatan manusia saat diuji musibah.
“Hari ini kita berdiri di sini dalam keadaan yang belum sepenuhnya pulih. Banyak yang hilang, banyak yang terluka. Tapi kalian semua menunjukkan bahwa semangat belajar tidak ikut hanyut bersama banjir,” ujar Mu’ti, Senin (5/1/2026).
Ia menekankan bencana bukanlah akhir dari segalanya. Menurutnya, pengalaman pahit justru dapat menjadi bekal untuk tumbuh lebih kuat dan berani menghadapi masa depan.
“Musibah bukan hukuman. Ia adalah pelajaran yang membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah,” katanya.
Mu’ti mengakui sebagian siswa mungkin kehilangan pakaian sekolah, perlengkapan belajar, bahkan orang-orang tercinta. Namun ia berpesan agar harapan dan cita-cita tetap dijaga.
“Kita boleh kehilangan banyak hal, tapi jangan pernah kehilangan mimpi. Jangan biarkan kesedihan mencuri masa depan kalian,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan terima kasih kepada para guru dan pemerintah daerah yang tetap berjuang agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan, meski dalam kondisi terbatas.
“Teruslah belajar, meski situasinya belum sempurna,” ucapnya.
Mu’ti juta menyampaikan kabar baik. Ia memastikan sekolah-sekolah terdampak bencana akan menjadi prioritas penerima dana revitalisasi pada tahun anggaran 2026.
“Mudah-mudahan, ruang belajar yang lebih baik akan segera terwujud, dan dari tempat inilah mimpi-mimpi besar kalian kembali tumbuh,” pungkasnya. (mua)
