Matawarta.com, JAKARTA– Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti angkat bicara soal beredarnya video keributan antara seorang guru dan sejumlah siswa di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Insiden tersebut ramai diperbincangkan di media sosial karena memperlihatkan aksi adu jotos di lingkungan sekolah.
Mu’ti memastikan penanganan kasus itu telah dilakukan oleh Dinas Pendidikan setempat dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Menurutnya, langkah penyelesaian sudah diambil agar persoalan tidak berlarut-larut.
“Perkara tersebut sudah ditangani oleh Dinas Pendidikan daerah bersama pihak-pihak terkait,” ujar Mu’ti.
Dinas Pendidikan setempat diketahui telah memanggil kepala sekolah untuk meminta klarifikasi atas kejadian tersebut. Selain itu, proses mediasi juga digelar dengan melibatkan unsur siswa, majelis guru, aparat kecamatan, perangkat kelurahan, hingga kepolisian.
Keributan itu sendiri terjadi di lingkungan SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur. Dalam video berdurasi sekitar 58 detik yang viral, tampak seorang guru sempat berbicara menggunakan mikrofon sebelum situasi berubah ricuh. Belum ada penjelasan resmi mengenai isi pernyataan guru tersebut, namun diduga ucapan itu memicu kemarahan siswa hingga berujung perkelahian.
Sejumlah guru lain yang berada di lokasi segera bertindak untuk melerai dan mengamankan oknum guru tersebut ke dalam ruangan agar situasi tidak semakin memanas.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi masih mendalami secara menyeluruh insiden tersebut guna menentukan langkah lanjutan. Kepala Bidang SMK Disdik Provinsi Jambi, Harmonis, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak.
“Kami sudah meminta penjelasan dari kepala sekolah. Hari ini juga sudah dilakukan mediasi melalui Forum Komunikasi Kecamatan, yang dihadiri camat, lurah, kapolsek, para siswa, dan majelis guru,” kata Harmonis.
Ia menegaskan, Disdik tidak menutup mata terhadap kejadian yang dinilai mencederai nilai-nilai pendidikan dan etika seorang pendidik. Harmonis pun menyatakan keprihatinannya atas peristiwa tersebut dan berharap insiden serupa tidak kembali terjadi di sekolah lain.
“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Semoga ke depan tidak terulang lagi karena bisa menjadi contoh yang tidak baik bagi dunia pendidikan,” tutupnya. (paz)
