PSSI Kasih Waktu 7 Hari kepada Klub, Erick Thohir Ancam Potong Poin Imbas Kerusuhan Suporter

Matawarta.com, JAKARTA– Ancaman pengurangan poin kini membayangi klub-klub peserta kompetisi sepak bola Indonesia. Ketua Umum PSSI Erick Thohir memberikan waktu tujuh hari kepada klub dan operator liga untuk menyepakati langkah konkret dalam mencegah aksi kekerasan suporter.

Jika kesepakatan tidak tercapai, PSSI siap turun tangan. Tak hanya mendorong sanksi pengurangan poin, Erick juga mengisyaratkan kemungkinan kembalinya larangan suporter tim tamu atau away di stadion.

Peringatan tersebut disampaikan setelah insiden penyerangan bus Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung dan kabar penyerangan terhadap suporter The Jakmania di Cikampek.

Erick menilai kejadian tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa dalam rivalitas sepak bola. Klub harus ikut bertanggung jawab untuk memastikan keamanan dan mencegah aksi serupa terulang.

“Saya akan kasih kesempatan liga, klub untuk bersepakat satu minggu ini. Kalau tidak ada kesepakatan, kami PSSI akan intervensi,” ujar Erick Thohir.

Tenggat waktu tersebut menjadi kesempatan bagi klub dan operator kompetisi untuk merumuskan aturan yang lebih tegas terkait pengamanan pertandingan dan pengelolaan suporter.

Erick tidak hanya meminta kesepakatan, tetapi juga mendorong adanya konsekuensi nyata bagi klub yang dinilai tidak mampu menjaga suporternya.

Salah satu opsi yang disorot ialah pengurangan poin. Hukuman tersebut diharapkan membuat klub lebih serius mencegah kekerasan yang melibatkan oknum pendukungnya.

“Saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya, pengurangan poin sekarang,” tegas Erick.

Meski demikian, Erick belum menyebut klub tertentu yang akan dijatuhi hukuman. Artinya, ancaman pengurangan poin tersebut belum menjadi keputusan resmi terhadap Persija Jakarta maupun klub lainnya.

Penentuan sanksi tetap perlu didasarkan pada pemeriksaan insiden dan ketentuan yang berlaku.

Selain pengurangan poin, kebijakan yang memperbolehkan suporter tim tamu kembali hadir di stadion juga terancam dievaluasi.

PSSI sebelumnya mulai memberikan kelonggaran bagi suporter away dengan syarat klub dan operator liga mampu menjamin keamanan serta memiliki kesepakatan terkait kehadiran pendukung tim tamu.

Namun, insiden kekerasan yang kembali terjadi membuat kelonggaran tersebut berpotensi dicabut.

“Boleh ada suporter away dengan catatan klub dan liga bertanggung jawab kalau sampai ada apa-apa,” kata Erick.

Dia bahkan membuka kemungkinan suporter tandang kembali dilarang apabila klub dan operator kompetisi gagal menjamin keselamatan penonton.

“Jangan-jangan tidak ada lagi suporter away lagi,” tambahnya.

Erick juga menyoroti insiden penyerangan terhadap bus EPA Persib Bandung. Menurut dia, tindakan perusakan, pembakaran, pengambilan barang, serta penggunaan benda yang berpotensi digunakan untuk menyerang sudah melampaui batas rivalitas olahraga.

“Ketika terjadi penyerangan, apakah yang suporter, oknum, saya tidak mau bicara suporter, oknum suporter menyerang sebuah bus, yang saya lihat itu sudah menjurus kriminalitas,” ucap Erick.

Dia menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia.

Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan aparat kepolisian. Klub dan operator liga juga harus memastikan suporter dapat menyaksikan pertandingan dan kembali ke rumah dengan selamat.

Erick pun meminta semua pihak tidak membenarkan aksi kekerasan dengan alasan rivalitas antarklub. (paz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *