Matawarta.com, JAKARTA- Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) langsung bergerak cepat dan tegas setelah mencuatnya kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang menyeret salah satu pelatih terhadap sejumlah atlet. Skandal ini sontak mengguncang dunia panjat tebing nasional dan memicu desakan perlindungan lebih ketat bagi para atlet.
Tanpa menunggu lama, federasi mengambil langkah darurat dengan mencopot pelatih yang diduga terlibat, membentuk tim investigasi internal, serta berkoordinasi intensif dengan aparat penegak hukum untuk memastikan kasus tersebut diproses secara transparan dan tuntas.
“Lalu kemudian kami membuat aturan yang lebih tegas secara internal, juga membuat aturan-aturan safeguarding, memastikan bahwa tidak ada lagi ruang yang memungkinkan kejadian semacam ini bisa terjadi,” ucap Ketua Umum FPTI, Yenny Wahid.
Salah satu aturan baru yang langsung diterapkan adalah larangan sesi latihan secara tertutup hanya antara pelatih dan atlet. Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari langkah preventif agar keamanan psikologis dan fisik atlet tetap terjaga.
“Kami membuat protokol yang makin diperketat, misalnya adalah ketika pelatihan tidak boleh hanya berdua,” tambahnya.
Di tengah proses hukum yang berjalan, FPTI juga memprioritaskan pemulihan mental para atlet korban. Federasi menilai kondisi psikologis mereka menjadi faktor krusial, terutama karena tim panjat tebing Indonesia akan segera menghadapi ajang kualifikasi penting di China pada awal April mendatang.
“Kalau saya pribadi bagi kami, yang paling penting adalah anak-anak atlet ini segera pulih mentalnya. Ini menjadi salah satu fokus kita yang paling utama karena kita sudah harus menghadapi kualifikasi di China nanti awal April. Jadi, penting sekali anak-anak sudah bisa semangat kembali,” kata Yenny.
Ia mengungkapkan tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Ia mengaku lega melihat para atlet perlahan kembali ceria dan mampu tersenyum, termasuk saat kegiatan buka puasa bersama yang digelar federasi baru-baru ini.
“Mereka sudah bisa tersenyum, mereka sudah bisa tertawa, saya senang sekali bahwa proses recovery pelan-pelan mulai terjadi,” tuturnya.
Selain fokus pada pendampingan korban, FPTI juga bergerak simultan dengan menunjuk pelatih baru agar program latihan tetap berjalan. Federasi berharap langkah cepat ini mampu mengembalikan kepercayaan atlet sekaligus menjaga performa tim nasional di tengah badai skandal yang sempat mengguncang.
“Nah, kita juga sudah menunjuk pelatih baru ya, tim pelatih baru juga sudah bekerja. Jadi, semua nih simultan berjalan,” tutupnya. (mua)
