Populasi China Menurun Akibat Generasi Muda Tak Mau Punya Anak

MataWarta.com; BEIJING – China mencatat penurunan populasi untuk pertama kalinya dalam 60 tahun, dengan proyeksi jangka panjang menunjukkan kecenderungan penurunan selama 30 tahun ke depan.

Hal ini disebabkan lantaran kaum muda tidak punya rencana untuk memiliki anak karena berbagai alasan.

Untuk meningkatkan minat para generasi muda, pemerintah China pun sampai meluncurkan berbagai langkah.

Salah satunya adalah menawarkan subsidi keuangan dan tunjangan lain untuk keluarga.

Namun, beberapa orang muda mengatakan kepada DW, mereka memiliki pandangan pesimistik tentang masa depan, dan ini tercermin dari perubahan sikap mereka terhadap pernikahan dan keluarga.

“Kaum muda di China umumnya merasa masa depannya suram dan hidup akan penuh tekanan,” kata Emma Li, perempuan berusia 25 tahun yang tinggal di Shanghai.

“Punya anak adalah sebuah pilihan yang akan menambah stres dalam hidup. Banyak dari kita yang memutuskan untuk menjadi ‘generasi terakhir’ dalam keluarga kita.”

Dia mengatakan, berita statistik tentang penurunan populasi tidak mengubah pandangannya tentang berkeluarga.

“Saya telah berdiskusi tentang pernikahan dan memiliki anak dengan banyak teman saya, dan banyak dari mereka tidak punya keinginan untuk mengikuti cara tradisional,” katanya kepada DW.

Yun Zhou, pengamat China dan asisten profesor sosiologi di University of Michigan mengatakan kepada DW, lebih banyak perempuan muda di China lebih fokus pada pengejaran karier dan kehidupan pribadinya.

“Diskriminasi gender di pasar tenaga kerja China dan harapan luar biasa sebagai ibu bagi perempuan adalah kendala yang menghalangi mereka untuk menikah atau punya anak,” katanya.

Penguncian selama pandemi corona dan peningkatan kontrol dari pihak berwenang, juga berdampak signifikan pada pandangan masyarakat tentang masa depan.

“Penguncian berulang kali selama tiga tahun terakhir telah merugikan banyak orang, termasuk tabungan dan rasa aman mereka,” kata Adam Wang, pria berusia 26 tahun yang tinggal di kota Tianjin.

“Pabrik dan perusahaan tidak dapat menawarkan tunjangan dasar bagi pekerjanya, sementara makin banyak orang bersaing untuk menjadi pegawai negeri, karena tingkat pengangguran kaum muda mencapai titik tertinggi baru selama pandemi,” katanya kepada DW.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *