Matawarta.com, JAKARTA– Pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin soal laki-laki yang memiliki ukuran celana 33-34 akan lebih cepat meninggal mengundang kontroversi. Ia memberikan klarifikasi.
Budi mengaku pernyataan itu merupakan analogi tentang bahayanya visceral fat atau lemak yang menumpuk di rongga perut dan mengelilingi organ penting. Hal ini disebabkan oleh makanan-makanan berlemak.
“Gini, ini saya tuh kalau diomongin suka salah. Gini ya, lever ini, kalau lemak itu kita makan, normalnya masuk di bawah kulit subcutaneous. Kalau dari situ lebih, dia nempel ke organ (lain), jantung, lever, ini. Itu namanya visceral fat, ini bahaya,” ujar Budi kemarin di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
Dijelaskannya, lemak tersebut bisa memicu pro-inflamasi sitokin sehingga berbahaya untuk kesehatan. Budi menyakini pernyataannya itu bukan body shaming.
“Jadi memang sebaiknya kita harus menurunkan BMI (body mass index) kita di bawah 24. BMI 24 kan susah ngomongnya, yang lebih gampang adalah lingkar perut laki-laki di bawah 90, lingkar perut wanita di bawah 80,” tutur Budi.
“Itu baik buat kesehatan supaya kita tidak ada visceral fat-nya supaya tidak keluar yang pro-inflammatory sitokin itu,” katanya.
Sebelumnya, Budi menyebut laki-laki yang memakai celana jeans ukuran di atas 33 sudah pasti obesitas sehingga berpotensi lebih cepat meninggal dunia.
“Pokoknya laki-laki kalau beli celana jeans masih di atas 32-33. Ukurannya berapa celana jeans? 34-33. Sudah pasti obesitas. Itu menghadap Allah-nya lebih cepat, dibandingkan dengan yang celana jeans-nya 32,” kata Budi.
“Saya bukannya body shaming, tapi memang artinya begitu,” ujarnya.
