Matawarta.com, JAKARTA– Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melarang warganya terlibat dalam aktivitas militer, imbas dari adanya warga sipil yang menjadi korban ledakan amunisi kadaluwarsa miliki TNI TNI Angkatan Darat (AD) di Garut, Jawa Barat.
Sebelumnya, tragedi ledakan amunisi terjadi pada 12 Mei. Jumlah korban mencapai 13 orang yang terdiri dari empat prajurit TNI dan sembilan warga sipil.
Keterlibatan warga sipil dalam upaya pemusnahan amunisi dianggap sangat miris. Warga sipil tersebut kabarnya sudah biasa melakukannya, untuk mengumpulkan serpihan-serpihan lalu dijual.
Dedi Mulyadi menilai keberadaan warga sipil dalam aktivitas militer sangat berbahaya. Lagi pula, itu bukan ranah warga sipil sehingga tak boleh dilakukan.
“Kalau saya sih cenderung nanti warga sipil yang di Garut tidak boleh lagi terlibat dalam kegiatan-kegiatan seperti itu,” kata Dedi.
“Karena memiliki risiko tinggi dan bukan orang yang terlatih,” tegas Dedi.
“Ada yang sudah 10 tahun bekerja di situ, katanya membantu anggota. Tapi, walaupun mereka merasa terlatih, pekerjaan itu bukan ranah sipil,” kata Dedi.
“Nah, kemudian apakah itu diperbolehkan atau tidak? Biarkan itu Mabes TNI yang menjelaskan,” ujarnya. (ads)
