JAKARTA – matawarta.com : Keberadaan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia atau PITI menjadi wadah pemersatu Islam dan Indonesia. Begitu pernyataan dari Sesditjen Bimas Islam Kemenag RI M. Fuad Nasar.
Hal itu disampaikannya dalam sambutan Muktamar PITI di Jakarta Pusat, pekan lalu. Mukmatar mengangkat tema “Dengan Semangat Islam Rahmatan Lil-Alamin, PITI Mengawal Pluralisme untuk NKRI”.
“Di masa kolonial, Islam dan Tionghoa seolah jauh satu sama lain. Namun kehadiran PITI dengan gerakan pembauran membuat Islam dan Tionghoa kian membaur. Karena Islam agama universal untuk kawan-kawan keturunan Tionghoa,” kata Fuad Nasar.
Lebih lanjut dikatakannya Islam tidak membeda-bedakan manusia karena etnisitas dan warna kulit. Maka Tionghoa yang menganut Islam silakan terjun langsung di kalangan umat. Tanpa perlu menonjolkan etnisitasnya.
“Meski satu dan lain hal, ajaran Islam membenarkan seseorang mengakui identitas asal usul dan etnisitasnya berdasarkan paham nasab. Namun, Islam juga mewajibkan seorang muslim harus mencintai agama dan Tanah Airnya,” ujar Fuad Nasar.
PITI diharapkan menjadi pembina dan pembimbing saudara keturunan yang ingin mengenal Islam.
“Kita juga butuh organisasi yang secara khusus membina para mualaf Tionghoa. Tentu cukup banyak di antara mereka yang memerlukan bimbingan setelah memilih menjadi mualaf,” tuturnya.*(WAH)
