JAKARTA, matawarta.com – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) resmi merilis hasil penyelidikan penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air pada 2021. Pesawat itu memiliki nomor penerbangan SJ-182, rute Jakarta-Pontianak.
Kecelakaan Sriwijaya Air yang menewaskan 62 orang diduga karena kesalahan throttle (tuas tenaga) dan pilot itu sendiri.
KNKT mengatakan kecelakaan pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air tahun lalu yang menewaskan 62 orang, disebabkan oleh sistem throttle yang salah dan respons pilot yang tertunda.
Penerbangan SJ-182 jatuh ke Laut Jawa pada 9 Januari 2021. Hanya empat menit setelah lepas landas dari Jakarta, menewaskan semua penumpang dan awak pesawat.
Dalam laporan akhir mereka, penyelidik menyalahkan beberapa faktor termasuk sistem throttle yang berulang kali rusak.
Itu adalah kecelakaan udara besar ketiga di Indonesia dalam kurun enam tahun terakhir.
Penyelidik mengatakan pesawat – yang berusia 26 tahun – memiliki sistem throttle otomatis yang mengalami kerusakan tak lama setelah lepas landas.
Hal itu menyebabkan jet miring tajam keluar jalur sebelum menukik 3.000 m (10.000 kaki) ke laut.
Awak penerbangan sebelumnya telah mencatat bahwa sistem throttle “tidak dapat diservis” dan telah menerima perbaikan rutin, kata KNKT, menurut kantor berita AFP.
Penyelidik juga mencatat bahwa orang-orang di kokpit tidak bereaksi terhadap penyimpangan pesawat dalam waktu – mungkin karena rasa puas diri yang mengakibatkan “kurangnya pemantauan” dari pilot.
Para penyelidik mencatat dalam laporan mereka yang dirilis pada hari Kamis ini, juga akibat dari kurangnya pelatihan bagi pilot tentang bagaimana bereaksi dalam situasi darurat seperti itu. KNKT mengatakan maskapai telah memberlakukan pelatihan semacam itu sejak kecelakaan itu.
Kecelakaan Sriwijaya Air menggarisbawahi catatan keselamatan udara yang suram di Indonesia, dengan tiga kecelakaan penerbangan komersial besar dalam beberapa tahun terakhir.*(WAH)
