Harga Pangan Terkendali Jelang Ramadan, Bapanas Perketat Pengawasan

Matawarta.com, JAKARTA- Menjelang bulan suci Ramadan, Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan tidak boleh ada pedagang yang menjual bahan pangan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Ia meminta seluruh pelaku usaha pangan mematuhi ketentuan harga demi menjaga stabilitas pangan nasional.

Amran menyebut, instruksi itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan kondisi pangan tetap terjaga seperti saat momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) lalu.

“Tidak ada boleh pengusaha seluruh Indonesia menjual di atas HET. Kalau ada yang melanggar, Satgas Pangan Polri akan bekerja, bila perlu menindaknya. Tidak ada lagi kesempatan karena sudah lama kita imbau,” tegas Amran.

Pantauan di Pasar Anyar, Bogor, Sabtu (24/1/2026), menunjukkan ketersediaan pangan pokok masih aman dan harga relatif terkendali. Sejumlah komoditas strategis dijual sesuai HET dan Harga Acuan Penjualan (HAP).

Pedagang cabai, Ahmad Nasir, mengatakan pasokan cabai masih rutin masuk ke pasar dengan harga sesuai ketentuan.

“Cabai rawit sekitar Rp45 ribu per kilogram, cabai merah besar Rp32 ribu per kilogram, dan cabai keriting Rp35 ribu per kilogram. Pasokan masih lancar,” ujarnya.

Untuk protein hewani, pedagang daging sapi Eja menyebut harga daging merah berada di kisaran Rp130 ribu per kilogram.

Sementara Hendar, pedagang ayam ras, mengatakan harga ayam sekitar Rp38 ribu per kilogram dengan stok yang tetap terjaga dan permintaan normal.
Sementara itu, beras medium di Toko Beras Budi Daya dijual Rp13 ribu per kilogram. Pedagang memastikan distribusi beras berjalan lancar tanpa kendala pasokan.

Amran menekankan, pemerintah menargetkan harga pangan stabil dalam satu pekan ke depan agar tetap berada pada level HAP dan HET selama Ramadan hingga Idulfitri.

“Presiden sangat mengharapkan harga pangan dijaga di bulan suci Ramadan. Kami minta satu minggu sudah stabil di level HAP dan HET,” kata Amran.

Pemerintah juga telah mengoordinasikan seluruh pihak terkait untuk memperketat pengawasan distribusi dan mencegah praktik penjualan di atas ketentuan. Selain itu, berbagai program intervensi pangan akan digencarkan guna menekan inflasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi umum secara bulanan pada Desember 2025 tercatat 0,64 persen. Dalam lima tahun terakhir, inflasi Desember selalu berada di bawah 1 persen. Sementara inflasi pangan (volatile food) juga belum pernah melampaui 3 persen saat Ramadan dan Idulfitri.

Untuk menjelang Ramadan 2026, inflasi pangan terakhir berada di level 2,74 persen pada Desember 2025. Pemerintah pun menyiapkan dua langkah utama, yakni memperkuat intervensi pasar dan memperketat pengawasan harga agar inflasi tetap terkendali. (mua)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *