Matawarta.com, JAKARTA– Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku tak bisa menyembunyikan kegelisahannya melihat arah dunia yang kian tidak menentu. Di tengah memanasnya konflik internasional, SBY menyampaikan rasa cemas mendalam akan kemungkinan terburuk yaitu pecahnya Perang Dunia Ketiga.
Lewat akun X pribadinya, SBY menuturkan selama puluhan tahun mempelajari geopolitik, isu perdamaian global, hingga sejarah peperangan, baru kali ini ia merasakan kecemasan yang begitu kuat terhadap masa depan dunia.
Ia menyebut, eskalasi konflik global dalam beberapa bulan terakhir membuatnya merasa dunia berada di persimpangan berbahaya. Bukan hanya sekadar konflik regional, tetapi potensi prahara besar yang bisa menyeret seluruh peradaban manusia.
SBY menilai, situasi saat ini memiliki kemiripan mengkhawatirkan dengan periode menjelang Perang Dunia I dan II. Mulai dari munculnya pemimpin-pemimpin agresif, pembentukan blok-blok kekuatan yang saling berhadap-hadapan, hingga perlombaan persenjataan yang masif.
“Sejarah menunjukkan, perang besar kerap terjadi bukan karena kurangnya tanda-tanda, tetapi karena manusia terlambat menyadari dan bertindak,” isyarat SBY dalam refleksinya.
Meski demikian, SBY menegaskan ia masih percaya bencana global itu bisa dicegah. Namun, menurutnya, peluang untuk menghentikannya semakin menyempit seiring waktu yang terus berjalan tanpa langkah nyata.
Ia mengingatkan jika perang dunia terutama perang nuklir benar-benar terjadi, maka kehancuran bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan. Korban jiwa bisa mencapai miliaran, dan peradaban manusia terancam punah.
Namun, SBY juga menolak anggapan doa semata cukup. Ia menekankan pentingnya usaha kolektif seluruh bangsa di dunia untuk menyelamatkan masa depan umat manusia.
Sebagai bentuk keprihatinannya, SBY mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tidak tinggal diam. Ia mengusulkan digelarnya Sidang Umum Darurat PBB guna membahas langkah konkret mencegah krisis global yang lebih besar.
Meski mengakui PBB saat ini lemah secara politik, SBY berharap lembaga dunia itu tidak dicatat sejarah sebagai institusi yang membiarkan kehancuran terjadi tanpa perlawanan.
“Lebih baik bersuara meski tak didengar, daripada diam saat dunia runtuh,” kira-kira itulah pesan moral yang ingin disampaikan SBY.
Kekhawatiran SBY muncul di tengah memanasnya geopolitik global, mulai dari konflik Rusia-Ukraina, Israel-Palestina, hingga ketegangan di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Situasi makin kompleks dengan manuver Amerika Serikat yang memicu reaksi keras negara-negara lain, termasuk ketegangan soal Greenland dan kebijakan tarif yang memicu friksi antarblok.
Bagi SBY, semua itu bukan sekadar berita luar negeri, melainkan peringatan keras bagi seluruh umat manusia agar tidak mengulangi kesalahan sejarah. (paz)
