Matawarta.com, JAKARTA- Korban jiwa akibat gempa bumi bermagnitudo 7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 68 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Meski dampaknya cukup besar, pemerintah belum mengambil keputusan untuk meminta bantuan dari negara lain. Pemerintah menilai penanganan di wilayah terdampak masih dapat dilakukan dengan kapasitas nasional.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah terus menerima laporan mengenai kondisi terkini dari tim yang berada di lapangan.
“Belum (membuka bantuan negara lain) ya,” ujar Prasetyo di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8), dilansir Detik.
Prasetyo menyebut pemerintah masih memantau kebutuhan masyarakat secara berkala. Mulai dari distribusi logistik, tempat pengungsian, hingga kebutuhan hunian bagi warga yang kehilangan tempat tinggal menjadi bagian dari penanganan.
“Nanti kita lihat, karena berdasarkan laporan harian yang kami terima dari teman-teman yang memonitor di lapangan, semua masih bisa kita tangani dengan baik,” katanya.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan hingga Senin (17/8) tidak ada lagi laporan warga yang hilang di tujuh kabupaten terdampak.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan personel Basarnas tetap disiagakan. Upaya pencarian dan pemantauan masih dilakukan untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat.
“Tim dari Basarnas masih siaga di tujuh kabupaten terdampak. Hingga saat ini, 17 Agustus, sudah tidak ada laporan warga yang hilang di wilayah terdampak,” ujar Berton dalam konferensi pers.
Selain pencarian korban, pemerintah juga memperkuat penanganan medis. Kementerian Kesehatan telah mengirim dua unit rumah sakit lapangan ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Nagekeo.
Fasilitas tersebut disiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada korban sekaligus mendukung proses evakuasi warga yang membutuhkan penanganan medis.
“Diharapkan rumah sakit ini dapat segera melayani warga yang menjadi korban gempa bumi dan membutuhkan evakuasi,” kata Berton.
Di sisi lain, kebutuhan tempat tinggal bagi warga terdampak mulai dipetakan. Pemerintah tengah mengidentifikasi kebutuhan hunian sementara (huntara) hingga hunian tetap (huntap) sebagai bagian dari pemulihan pascagempa. (mua)
