Matawarta.com, BENGKULU – Misteri jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, kini memasuki tahap penting. Tim identifikasi tengah mencocokkan sampel DNA jenazah tersebut dengan data antemortem dan sampel DNA keluarga lima jurnalis serta tiga kru KM Arupadatu I yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Proses pencocokan DNA tersebut dilakukan setelah adanya koordinasi antara Polda Banten dan Polda Bengkulu. Meski demikian, hasil identifikasi diperkirakan tidak bisa diketahui dalam waktu singkat karena membutuhkan proses pemeriksaan lebih lanjut.
Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea mengatakan data antemortem beserta sampel DNA keluarga yang dikumpulkan dari posko di Banten telah diserahkan kepada Polda Bengkulu.
“Data antemortem dan sampel DNA keluarga dari posko kita di Banten sudah diserahkan ke Polda Bengkulu untuk penyesuaian. Saat ini masih proses identifikasi, dan umumnya memakan waktu lebih kurang dua minggu,” ujar Maruli dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis (17/9/2026), seperti dilansir Antara.
Jenazah yang menjadi perhatian tersebut ditemukan di kawasan Pulau Enggano pada Sabtu (12/9) sore. Korban diketahui berjenis kelamin laki-laki, diperkirakan berusia sekitar 50 tahun dengan tinggi kurang lebih 163 sentimeter.
Saat ditemukan, jenazah mengenakan celana pendek selancar. Karena tidak ada warga setempat yang melaporkan kehilangan anggota keluarga, jenazah sempat dimakamkan oleh pihak Forkopimcam setempat pada malam hari.
Situasi berubah setelah Polda Banten dan Polda Bengkulu melakukan koordinasi terkait kemungkinan keterkaitan jenazah tersebut dengan rombongan KM Arupadatu I. Makam kemudian kembali dibongkar dan jenazah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu.
Di rumah sakit, jenazah menjalani autopsi sekaligus pemeriksaan postmortem untuk mengungkap identitasnya. Proses tersebut menjadi bagian penting sebelum Tim DVI Polri menyandingkan hasil pemeriksaan dengan data antemortem dari keluarga.
Polda Banten memastikan komunikasi dengan keluarga korban terus dijaga selama proses identifikasi berlangsung. Pendampingan juga diberikan sembari menunggu hasil pemeriksaan resmi dari tim DVI.
“Karena yang paling dibutuhkan keluarga hari ini adalah dukungan. Yang dibutuhkan keluarga hari ini adalah informasi-informasi, karena keluarga dan kita semua masih memelihara harapan bahwa kawan-kawan kita, saudara-saudara kita ini masih bisa ditemukan,” tutur Maruli.
Rombongan KM Arupadatu I sebelumnya berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026). Kapal tersebut kemudian dilaporkan hilang kontak dan pencarian oleh Tim SAR Gabungan dimulai sehari setelahnya.
Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut yakni M Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis lepas).
Tiga kru kapal yang turut hilang adalah Warta/Surahman selaku kapten kapal, Sukarman sebagai ABK, serta Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.
Sementara itu, jenazah tanpa identitas di Pulau Enggano telah menjalani autopsi pada Senin (14/9). Kini, proses pencocokan DNA menjadi salah satu tahapan yang ditunggu untuk memastikan identitas jenazah tersebut. (mua)
