JAKARTA – matawarta.com : Gerbong kereta cepat Jakarta-Bandung mulai tiba. Kargo pertama datang memakai kapal laut pada awal bulan ini di Pelabuhan Nonpeti Kemas, Tanjung Priok, Jakarta.
Kedatangan moda angkutan itu sekaligus menjadi penanda dimulainya era sangat modern dari sektor perkeretaapian di tanah air. Setelah sejarah panjang mencatat, alat transportasi berbasis rel itu pertama kali dibawa kolonial ke Nusantara 155 tahun silam.
Kereta cepat Jakarta-Bandung itu sementara dinamai Komodo Merah. Bentuk gerbong terdepan lancip, mirip moncong komodo. Namun begitulah ciri dari kereta cepat, seperti peluru.
Ada dua set kereta cepat (high speed railways), terdiri dari EMU untuk kereta penumpang dan satu unit lainnya berupa comprehensive inspection train (CIT) atau kereta inspeksi.
Unit kereta cepat ini datang setelah melewati perjalanan laut selama hampir tiga pekan dari Pelabuhan Qingdao, Provinsi Shandong, Tiongkok, pada 5 Agustus 2022.
Kereta-kereta canggih dengan kode produksi KCIC400AF itu dibuat CRCC Qingdao Sifang Co Ltd. Pabrik kereta yang sudah berdiri sejak 1900 itu mendapat pesanan 11 set EMU dari PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC).
Sebelum dikirim ke Indonesia, produk tadi sudah melewati static commisioning test dan dynamic test di pabriknya. “Ini menjadi kabar baik untuk Indonesia dan menunjukkan kita bisa bersaing dengan negara-negara maju lainnya untuk sektor perkeretaapian ini,” ujar Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara Kartiko Wirdjoatmojo.
Komodo Merah pada Juni 2023 ditargetkan sudah bisa beroperasi. Melayani rute Jakarta-Bandung sejauh 142,3 kilometer dalam 68 kali perjalanan setiap harinya.
Sebanyak 80 km dari total jaraknya berupa jalur layang dengan 13 terowongan menembus perbukitan cadas. Proyek tersebut berbiaya hingga Rp118,5 triliun.
Komodo Merah sendiri siap melahap rute Jakarta-Bandung hanya dalam waktu 40 menit dengan kecepatan maksimal 350 km per jam. Kendati oleh pabriknya, jenis kereta tersebut diklaim mampu melesat hingga 420 km per jam.
Si Komodo Merah, saat beroperasi nantinya, berhenti di empat stasiun. Yakni, Stasiun Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar. Unit-unit EMU berkelir abu-abu dan merah sebagai refleksi dari ikon budaya Indonesia seperti batik, komodo, dan Candi Borobudur.*(WAH)
