Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Pemerintah Tarik Pasukan dari Misi UNIFIL

Matawarta.com, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menuntut pemerintah menarik pasukan perdamaian TNI dari misi berbahaya di Lebanon. Seruan ini muncul setelah satu prajurit gugur akibat serangan brutal Israel yang menghantam pos penjagaan Pasukan Perdamaian PBB, UNIFIL, pada Minggu (29/3).

Dave menilai tragedi berdarah ini harus menjadi alarm keras bagi pemerintah. Ia mempertanyakan urgensi dan keamanan misi yang sejak awal bertujuan menjaga perdamaian, namun kini justru menyeret prajurit Indonesia ke zona maut.

“Kalau situasi sudah tidak bisa dijamin aman, lebih baik ditarik atau setidaknya dievaluasi total,” tegasnya di kompleks parlemen, Senin (30/3).

Tak hanya menyampaikan duka mendalam, Komisi I DPR juga menuntut pengusutan tuntas. Dave meminta kejelasan siapa pelaku serangan, apa target sebenarnya, dan mengapa prajurit TNI bisa menjadi korban. Ia bahkan menyinggung kemungkinan kesalahan informasi atau salah sasaran dalam serangan tersebut.

Lebih jauh, Dave mengungkap opsi penarikan pasukan bukan sekadar wacana. Ia mencontohkan langkah Italia yang disebut siap menarik personelnya dari wilayah konflik.

“Ini bukan keputusan ringan, tapi keselamatan prajurit adalah prioritas utama,” ujarnya.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah mengonfirmasi satu prajurit TNI gugur dalam insiden tersebut. Selain korban jiwa, satu prajurit dilaporkan luka berat dan dua lainnya luka ringan akibat gempuran di tengah baku tembak sengit.

Misi UNIFIL sendiri selama ini bertugas menjaga stabilitas di wilayah selatan Lebanon, zona panas yang kerap menjadi ajang bentrokan antara militer Israel dan milisi Hizbullah. Dari sekitar 10.000 pasukan penjaga perdamaian, lebih dari 1.200 di antaranya adalah prajurit TNI, kini berada di tengah ancaman yang makin tak terprediksi. (mua)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *