Matawarta.com, JAKARTA – Keputusan John Herdman menunjuk pemain-pemain bertahan sebagai eksekutor penalti menjadi salah satu cerita menarik di balik keberhasilan Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026.
Dalam situasi penuh tekanan menghadapi Tailan di final, Herdman ternyata tidak sekadar memilih pemain berdasarkan posisi atau reputasi. Para pemain yang dipercaya maju ke titik putih justru mereka yang dianggap paling siap berdasarkan hasil latihan.
Strategi tersebut akhirnya membawa hasil manis. Indonesia sukses memenangkan drama adu penalti dengan skor 4-2 setelah pertandingan berakhir 2-2 selama 120 menit di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin (5/10/2026) malam WIB.
Yang menarik, sederet pemain belakang masuk dalam daftar eksekutor Indonesia. Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, hingga Shayne Pattynama dipercaya mengemban tugas yang biasanya identik dengan para penyerang.
Pilihan itu sempat memunculkan pertanyaan. Mengapa Herdman tidak menempatkan lebih banyak pemain depan yang memiliki naluri mencetak gol?
Herdman kemudian mengungkap bahwa keputusan tersebut sudah melalui proses panjang dalam latihan.
Menurutnya, seluruh pemain diberi kesempatan untuk mengambil penalti sebelum pertandingan. Dari sana, tim pelatih melihat siapa yang mampu menunjukkan ketenangan, akurasi, sekaligus kepercayaan diri terbaik.
“Untuk penalti, kami sudah berlatih kemarin. Kami menghabiskan banyak waktu bersama para pemain untuk menjalani beberapa proses mental,” ujar Herdman.
Hasil latihan akhirnya membuat beberapa pemain belakang mengungguli para penyerang.
“Setiap pemain mendapat kesempatan. Kami menganalisis para pemain yang mengambil penalti dan mereka yang akhirnya menjadi penendang adalah pemain yang tampil paling klinis dalam persiapan kemarin,” katanya.
Elkan Baggott menjadi salah satu pemain yang mencuri perhatian. Herdman mengaku bek Timnas Indonesia itu bahkan beberapa kali berhasil mencetak penalti dalam sesi latihan.
“Elkan mencetak beberapa penalti lebih banyak! Saya bilang kepadanya, dia tidak boleh mencetak gol dengan kepalanya!” kata Herdman sambil tertawa.
Bukan hanya Baggott. Dean James dan Shayne Pattynama juga menunjukkan kemampuan eksekusi yang membuat staf pelatih yakin memberikan kepercayaan kepada mereka.
“Dean James, Shayne Pattynama… Para pemain ini sangat klinis dalam penyelesaian akhir saat latihan kemarin,” ungkap Herdman.
Sebaliknya, sejumlah pemain depan justru tidak berada dalam kondisi terbaik ketika menjalani latihan penalti.
“Sementara beberapa penyerang tidak demikian dan mereka tidak percaya diri,” lanjutnya.
Herdman pun memilih tidak mengambil risiko. Baginya, nama besar atau posisi seorang pemain tidak cukup menjadi alasan untuk menunjuk eksekutor dalam situasi sepenting final.
“Sering kali, ketika seorang pemain belum mampu melakukannya dalam latihan, Anda memberikan kesempatan kepada pemain yang terlihat sedang berada dalam performa terbaik,” jelasnya. (mua)
