Matawarta.com, JAKARTA –Sekolah Rakyat telah ditinggal oleh ratusan siswa yang memilih mengundurkan diri. Wamensos Agus Jabo menilai tidak masalah.
“Ini kan habitat baru ya. Mereka terbiasa hidup bersama teman-teman di lingkungan asalnya, lalu masuk sekolah rakyat mereka harus diasramakan,” kata Agus Jabo di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Sentra Handayani, Jakarta Timur, Senin (11/8/2025).
“Jadi ini proses baru yang memang butuh penyesuaian. Kalau kemudian ada yang mundur, saya pikir tidak ada masalah,” katanya.
Agus menyebut pemerintah sudah menyiapkan pengganti siswa yang mengundurkan diri. Pemerintah sudah berkomitmen agar anak-anak tidak putus sekolah.
“Jadi ya nggak apa-apa, semua berproses. Ini perintah Pak Presiden supaya anak-anak Indonesia semua bisa bersekolah,” kata Agus Jabo.
“Yang kaya, yang miskin semua harus sekolah, supaya mereka pintar, punya karakter, dan keterampilan. Sekolah rakyat ini adalah jembatan untuk mewujudkan cita-cita mereka,” katanya.
Sekolah Rakyat telah berjalan sejak 14 Juli 2025 lalu dan tersebar di sebanyak 63 titik di berbagai kota di Indonesia. Namun, sejauh ini sudah 115 siswa memilih mundur. Di antaranya, Jawa dan Sulawesi masing-masing 35 siswa, di Kalimantan 10 siswa, di Sumatera 26 siswa,, Bali dan Nusa Tenggara 4 siswa, dan di Maluku 5. (mua)
