Impor Beras Resmi Ditutup 2026, Pemerintah Andalkan Produksi Lokal

Harga beras di pasar relatif stabil dan stoknya aman hingga akhir tahun 2022. ANTARA FOTO/ M Risyal Hidayat

Matawarta.com, JAKARTA – Pemerintah menetapkan kebijakan pengetatan impor pangan strategis pada 2026 dengan menutup sepenuhnya keran impor beras, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan industri. Keputusan ini diambil setelah neraca pasokan nasional menunjukkan produksi dalam negeri berada pada level surplus dan mampu memenuhi kebutuhan domestik.

Kebijakan tersebut diputuskan dalam Rapat Penetapan Neraca Komoditas Pangan Tahun 2026 yang digelar di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat. Rapat dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) dan dihadiri Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman, serta perwakilan kementerian dan lembaga terkait.

Deputi Bidang Koordinasi Tata Niaga dan Distribusi Pangan Kemenko Pangan, Tatang Yuliono, menjelaskan rapat tersebut menyepakati kebutuhan impor untuk sejumlah komoditas lain, khususnya yang menopang aktivitas industri. Namun, untuk beras, pemerintah sepakat tidak menetapkan kuota impor sama sekali pada tahun depan.

“Untuk beras tidak ada impor, baik beras konsumsi maupun industri semuanya nol,” ujar Tatang.

Pada 2026, kebijakan impor pemerintah lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sektor industri dengan total volume sekitar 4,86 juta ton. Komoditas yang masuk dalam skema impor tersebut antara lain gula, daging industri, hasil perikanan, dan garam.

Untuk komoditas gula, pemerintah menetapkan impor sebesar 3.124.394 ton untuk gula industri serta 508.360 ton untuk gula Kemudahan Impor Tujuan Ekspor dan Kawasan Berikat (KITE KB). Sementara itu, gula untuk konsumsi masyarakat dipastikan tidak berasal dari impor.

“Impor hanya untuk kebutuhan industri. Untuk konsumsi, tidak ada impor,” lanjut Tatang.

Penghentian impor beras ini sejalan dengan rencana pemerintah mengumumkan capaian swasembada beras dan jagung pada awal 2026. Berdasarkan data terbaru, Indonesia mencatatkan surplus produksi beras sekitar 4,7 juta ton.

Zulkifli Hasan mengungkapkan, sepanjang Januari hingga Desember 2025, produksi beras nasional mencapai 34,77 juta ton atau tumbuh 13,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tren positif juga terlihat pada produksi jagung yang mencapai 16,55 juta ton atau meningkat 9,34 persen secara tahunan.

Dengan capaian tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dijadwalkan akan mengumumkan secara resmi status swasembada beras Indonesia pada akhir 2025 atau awal 2026.

“Dalam satu tahun ini kita sudah bisa swasembada. Nanti Mentan akan mengumumkan akhir Desember atau awal Januari,” kata Zulhas. (mua)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *