Matawarta.com, JAKARTA– Serangan mematikan di Lebanon yang merenggut nyawa prajurit TNI memicu reaksi keras dari Indonesia. Pemerintah mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggelar rapat darurat.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, mengungkapkan Indonesia telah berkoordinasi langsung dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyusul gugurnya personel TNI yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon.
Dalam pernyataannya, Indonesia tidak hanya menyampaikan duka, tetapi juga kemarahan atas serangan yang dinilai melanggar batas kemanusiaan.
“Serangan ini tidak dapat diterima. Pasukan penjaga perdamaian seharusnya dilindungi, bukan justru menjadi sasaran,” tegas Sugiono.
Indonesia pun menuntut penyelidikan total tanpa kompromi, cepat, transparan, dan menyeluruh, untuk mengungkap dalang di balik insiden berdarah ini.
Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang semakin brutal. Dalam dua kejadian berbeda, total tiga prajurit TNI gugur saat menjalankan mandat perdamaian.
Ledakan pertama terjadi di wilayah Bani Hayyan yang menewaskan dua prajurit sekaligus dan melukai lainnya. Sebelumnya, pada insiden terpisah, Praka Farizal Rhomadhon gugur setelah proyektil meledak di dekat pos penjaga perdamaian di Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi dunia internasional, karena merupakan korban pertama dari pasukan penjaga perdamaian sejak konflik terbaru antara Israel dan Hizbullah pecah awal Maret. (paz)
