Matawarta.com, JAKARTA– Badan Gizi Nasional (BGN) akan mengambil langkah tegas terkait kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bogor, Jawa Barat. Teguran keras diberikan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Jika terjadi seperti ini, kami itu biasa langsung ambil tindakan. Satu, cek sampel makanannya, benar enggak? Ini valid enggak? Memang benar dari gitu kan,” ujar Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN Tigor Pangaribuan.
“Sampel makanan selalu ada. Kalau memang valid itu sampel makanan, misalnya ada tongkol yang kurang baik. Maka kami melakukan teguran keras itu kepada Satuan Pelayanan jika melakukan hal tersebut,” katanya.
Tigor menyebut BGN akan mengecek kualitas bahan makanan dari supplier. Jika tak ada perbaikan, maka supplier tersebut bakal diganti.
“Kalau sumbernya itu dari bahan makanan, jadi bahan makanannya harus kita cek dari mana asal supplier-nya. Begitu kita tahu supplier-nya, maka kita akan berikan teguran ke supplier tersebut. Kalau dia tidak ada perbaikan, kita setop supplier tersebut,” ujar Tigor.
Sebelumnya, Wali Kota Bogor Dedie Rachim mengungkapkan hasil uji sampel Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Bogor ditemukan adanya kandungan bakteri E.coli dan bakteri Salmonella. Kedua bakteri itu ditemukan pada dua jenis makanan, telor ceplok barbeque dan tumis tahu toge yang disediakan oleh dapur SPPG Bosowa Bina insani.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor langsung menetapkan kasus keracunan MBG tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB), setelah 223 murid menjadi korban.
