Matawarta.com, KEDIRI– Pada suatu malam, Bulan Dzulhijjah, sekira pukul 01.30 dini hari, sebuah pesan masuk, nama di kontak tertera Gus Nafi’, pesan yang berisi voice note itu kemudian diputar ternyata berisi doa.
“Mudah-mudahan diberikan keselamatan dunia dan akhirat,” bunyinya.
Penerima pesan pun langsung bergetar hatinya, bulu kuduk berdiri, dan tanpa tersadar menetes air mata.
Sebuah pesan yang membuat jiwa sang penerima pesan menjadi tenang. Di tengah pikiran yang sedang menyerampang dengan urusan dunia yang begitu pelik, seolah Gus Nafi’ tahu dan lantas mengirimkan pesan lanjutan.
“Allahumma tenang, diparingi sugih, rezeki melimpah, sing tenang,” lanjut pesan tersebut.
Padahal, al-fakir tak pernah berkeluh kesah, tak pernah bercerita. Tetapi, seolah ada pesan dari sang Maha Tahu yang disampaikan melalui Gus Nafi’, membuat sang penerima pesan makin tenang menghadapi masalah ke depan.
Sejurus kemudian, Gus Nafi’ kemudian mengirimkan pesan kembali, untuk memberikan pesan ke khalayak, bahwa hamba Allah asal Kencong, Kediri, itu siap untuk memberikan bantuan kepada sesama saudara muslim.
“Buat teman2 sodara semua kaum muslim2 semuanya, bila mana membutuhkan doa dan bantuan bisa hubungi nomer saya di 081259996689. Semoga manfaat dunia & akhirat,” pungkasnya.
Siapa Sosok Gus Nafi’?
Beliau ialah pengasuh dan pendiri
Pondok Singgah dan Pesantren Rehabilitasi Sapu Jagad. Pesantren tersebut merupakan kembaga pendidikan yang menekankan pada pada titik pengobatan Jiwa, yang dirintis oleh ulama yang bernama lengkap Tuhfatun Nafi’ Anak nomor empat dari KH. Zamrodji
Pondok pesantren tersebut berdiri pada tahun 1998. Dan sekarang sudah mempunyai anak didik yang banyak. Dengan program yang dijalankan, sudah banyakalumni yang lulus dengan sehat jiwa dan raganya.
Proses pendirian pondok ini bermula dari keresahan batin yang dialami pendiri melihat gejolak jiwa para muda yang kurang perhatian dari orang tuanya. Ujungnya, pelampiasannya memgarah kepada barang terlarang atau dalam kata lain yaitu memakai obat-obatan, minum-minuman keras.
Berawal dari problematika itu, Gus Nafi’ kemudian makin gigih menggalang para muda untuk berduyun – duyun meninggalkan perbuatan yang dilarang agama maupun negara itu.
Mulai dari menggelar Pengajian-pengajian, konser-konser keagamaan, dan amaliah lainnya yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tuhfatun Nafi’ sendiri lahir pada 1 Januari 1977, di Desa Kencong, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Dia adalah anak keempat dari lima bersaudara dalam keluarga yang sangat taat agama. Ayahnya, KH. Zamrodji, adalah seorang kyai besar di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Kencong, sementara ibunya, Hj. Asholihah, adalah putri dari KH. Abdul Aziz, seorang kyai dari Pondok Pesantren Lirboyo.
Latar belakang keluarganya yang kaya akan keilmuan dan agama memberikan fondasi yang kuat untuk masa depannya.
Tuhfatun Nafi’ kecil memang terlihat berbeda dengan anak sebayanya. Pasalnya, beliau tidak pernah mengikuti pelajaran di sekolah formal dan tumbuh menjadi seorang buta huruf.
Namun, pendidikan yang dia terima tidaklah terbatas. Dia menghabiskan waktunya di pondok pesantren ayahnya, mendalami ilmu agama dengan penuh dedikasi secara otodidak.
Selama masa kecilnya, Gus Nafi’ terkenal karena sifatnya yang bandel. Namun, di balik sisi bandelnya, tersembunyi sifat kharismatik yang kemudian akan memimpinnya dalam sebuah perjalanan yang luar biasa.
Kehadirannya, memang berbeda dengan ulama kebanyakan. Bukan keilmuan secara letterlek yang diberikan, tetapi banyak ilmu hikmah yang disampaikan. Karena itu, berada di dekatnya, hati bisa menjadi tenang, dan menunjukkan betapa fakirnya hati kita di hadapan Allah.
Kesombongan dan rasa sok lebih, benar-benar tergerus saat berada di dekatnya. Wallahu A’lam Bisshowab
