Matawarta.com, JAKARTA- Presiden Prabowo Subianto memberi sinyal adanya gelombang investasi besar yang bakal masuk ke Indonesia dalam waktu dekat.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menjelaskan kondisi ekonomi nasional di tengah gejolak ekonomi global. Ia mengaku telah bertemu dengan sejumlah pelaku usaha besar dunia dan mendapat gambaran mengenai tingginya minat investor terhadap Indonesia.
Bahkan, Prabowo meminta masyarakat menunggu beberapa minggu ke depan karena menurutnya akan ada investasi dalam jumlah besar yang masuk ke Tanah Air.
“Berapa minggu ke depan ya Anda tunggu saja. Karena saya sudah tahu ya akan ada investasi besar-besaran masuk ke Indonesia. Akan besar-besaran,” ujar Prabowo dalam acara Presiden Prabowo Menjawab, dikutip Kamis (17/9/2026).
Keyakinan tersebut bukan tanpa alasan. Prabowo mengatakan para pemain bisnis besar dunia yang ditemuinya melihat Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat dan relatif aman untuk menjadi tujuan investasi.
“Investor-investor besar dunia datang ke Indonesia, mereka tahu fundamental ekonomi kita kuat dan aman,” kata Prabowo.
Sinyal tersebut muncul ketika realisasi investasi Indonesia memang masih menunjukkan angka besar. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat investasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau 49,5 persen dari target tahunan Rp2.041,3 triliun. Investasi tersebut menyerap 1.448.862 tenaga kerja.
Angka tersebut melanjutkan capaian investasi pada 2025. Sepanjang tahun lalu, realisasi investasi mencapai Rp1.931 triliun dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja.
Prabowo menegaskan, investasi yang masuk bukan berasal dari program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa Merah Putih.
“Ini investasi bukan dari program pemerintah, bukan MBG, bukan Koperasi Merah Putih, bukan,” tegasnya.
Menurut Prabowo, sejumlah indikator ekonomi menjadi alasan investor tetap melihat Indonesia sebagai tujuan penanaman modal. Ia menyoroti inflasi yang disebut berada di level 2,92 persen dan defisit anggaran yang masih berada di bawah 3 persen.
Ia juga membandingkan posisi defisit Indonesia dengan sejumlah negara lain. Dalam paparannya, defisit Filipina disebut sekitar 6 persen, India 4,6 persen, sedangkan Prancis 5,4 persen.
“Jadi semua orang percaya sama Indonesia. Makanya mereka mau datang ke Indonesia. Saya sangat optimis,” ujar Prabowo.
Pemerintah pun melihat investasi bukan sekadar angka dalam laporan ekonomi. Dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja menjadi salah satu perhatian utama. Pada semester I 2026 saja, investasi telah menyerap hampir 1,45 juta tenaga kerja secara langsung.
Prabowo juga menyinggung prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Ia merujuk proyeksi Goldman Sachs yang memperkirakan Indonesia dapat masuk jajaran ekonomi terbesar dunia pada 2050. (mua)
