Matawarta.com, JAKARTA- Ketua Umum PSSI sekaligus Menpora Erick Thohir menjawab tudingan Indonesia terlibat intervensi terkait hukuman FIFA kepada Malaysia. Erick menegaskan Indonesia sedang sibuk memajukan olahraga di Tanah Air.
FIFA menyebut FAM telah melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA (FDC) tentang pemalsuan dokumen. FIFA menjatuhkan hukuman denda 350 ribu CHF (setara Rp7,3 miliar) untuk FAM dan masing-masing pemain 2.000 CHF (setara Rp41,8 juta).
FIFA juga menjatuhi sanksi larangan bermain selama 1 tahun kepada ketujuh pemain naturalisasi timnas Malaysia yang dokumennya bermasalah tersebut.
Tujuh pemain tersebut adalah Joao Figueiredo, Jon Irazabal, Hector Hevel, Imanol Machuca, Gabriel Palmero, Facundo Garces, dan Rodrigo Holgado.
Muncul tuduhan Indonesia intervensi di balik keputusan FIFA tersebut. Tuduhan itu datang dari Tunku Ismail Idris yang merupakan Bos Johor Darul Takzim (JDT) sekaligus eks Presiden FAM. Jurnalis ternama Malaysia juga menggaungkan isu sabotase dari negara lain.
“Tapi kami tidak intervensi, tidak ikut campur isu-isu negara lain,” ujar Erick.
Ditegaskannya, Indonesia sangat mendukung dan menghargai bagi negara-negara di Asia Tenggara yang ingin memajukan olahraganya. Tapi, Indonesia tak mau ikut campur urusan negara lain karena sedang sibuk membawa olahraga di negara sendiri maju.
“Lalu kami sendiri dari Kemenpora atau saya pribadi, kita tentu harus menghargai semua negara di Asia Tenggara ketika ingin olahraganya maju. Kita harus hargai,” katanya.
“Dan kita tidak ikut campur dengan politik atau kebijakan masing-masing negara, tapi mohon maaf kalau kami di Indonesia ingin olahraganya maju.”
“Ingin sepakbolanya bagus, ingin bulu tangkisnya bagus, pencak silatnya mendunia, olahraga-olahraga kita ingin maju ya kita harus lakukan itu. Tapi kami tidak intervensi, tidak ikut campur isu-isu negara lain,” dia menambahkan. (sis)
