Matawarta.com, JAKARTA – Kekalahan tipis dari Bulgaria jadi alarm keras bagi John Herdman. Di balik dominasi permainan, pelatih asal Kanada itu menyoroti satu penyakit lama yang belum juga sembuh yaitu tumpulnya lini depan Garuda.
Timnas Indonesia harus menelan pil pahit usai tumbang 0-1 dari Tim nasional Bulgaria di final FIFA Series 2026 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (30/3/2026). Satu-satunya gol lahir dari titik putih lewat eksekusi Marin Petkov pada menit ke-37.
Namun skor akhir tak sepenuhnya mencerminkan jalannya laga. Indonesia tampil menekan dengan penguasaan bola mencapai 71 persen, angka yang seharusnya cukup untuk mengunci kemenangan. Namun, dominasi itu tidak mampu membawa Skuat Garuda meraih kemenangan.
Dari enam percobaan tembakan, hanya satu yang benar-benar menguji kiper lawan. Sisanya melebar, bahkan dua peluang emas hanya membentur mistar. Sementara, Bulgaria tampil lebih klinis, sempat dari sembilan tembakan mereka tepat sasaran, dan satu berbuah gol penentu.
Herdman tak menutup mata. Ia mengakui timnya sudah mampu membangun serangan dengan rapi, tetapi kehilangan taring saat berada di depan gawang.
Masuknya Dony Tri Pamungkas dan Beckham Putra di babak kedua sempat memberi harapan. Intensitas serangan meningkat, ritme permainan lebih hidup. Namun lagi-lagi, peluang gagal dikonversi menjadi gol.
“Kami mengendalikan sebagian besar pertandingan, terutama hingga sepertiga akhir lapangan. Dalam 20 menit terakhir, ada peningkatan kualitas serangan. Tapi kami harus terus bekerja di area itu,” ujar Herdman. (mua)
